sejarahGaulfresh.com – Ali Zainal Abidin, cucu Ali bin Abi Thallib pernah berkata, “Dulu kami diceritakan peperangan Rasulullah sama seriusnya sebagaimana kami diajarkan Al Qur’an” Apa yang bisa kita tarik dari perkataan mulia orang mulia ini? Ya, pentingnya sejarah, sirah Nabi dan orang-orang shalih digencarkan pada anak-anak, sebagaimana kita ajarkan mereka kitab suci.

Mungkin ini pula yang kemudian menginspirasi Hasan Al Banna menjadikan sirah sebagai bagian tak terpisahkan dari dakwah panjangnya. Beliau sangat menekankan kader dakwahnya untuk mengkaji sirah secara mendalam. Ada beberapa hal yang menjadikan mengapa sirah- baik nabi, sahabat, maupun orang shalih lainnya-penting.

Pertama, kita bisa mengenal orang-orang besar yang bisa dijadikan teladan hidup. Hari ini kita dan anak-anak lebih hafal nama pemain sepak bola dengan dinamika kehidupanya. Khalid bin Walid tidak populer sebagaimana batman dan spiderman. Kisah-kisah hayal dan tidak masuk akal lebih mendominasi pikiran dibanding kisah heroik pada pahlawan islam. Tidak jarang gaya kita pun mengekor idola tanpa pandang itu baik atau buruk. Sang idola sejati telah berganti. Maka inilah saatnya kita membuka kembali lembaran hidup orang shalih agar tahu bagaimana dan siapa sang idola sejati.

Kedua, bisa mengukur dan membandingkan amalan kita dengan mereka. Betapa sering kita itu membanggakan amal yang sedikit. Betapa banyak yang sudah berbangga membaca Al Qur’an 1 juz setiap harinya. Padahal para sahabat yang paling sibuk paling lambat menyelesaikannya dalam 10 hari. Dan banyak di antaranya yang selesai 3 hari. Tidak jarang lembaran juz itu justru dibacanya dalam shalat malam, tanpa mushaf.

Betapa kita melihat karya besar mereka yang melegenda. Tiap huruf yang tergores tidaklah ada keniatan untuk meninggikan namanya di dunia. Maka kita lihat dan merasakan karyanya melebihi usia bahkan ratusan tahun setelah wafatnya. Imam Mawardi misalnya. Puluhan jilid beliau tulis sepanjang hayat. Tapi demi menjaga niat tidak jatuh pada popularitas semu, beliau sembunyikan karya monementalnya hingga ajal menjemput. Ibnu Jauzi lain lagi. Setiap bekas rautan pensilnya beliau kumpulkan dan kelak bisa digunakan untuk menghangatkan air untuk memandikan jenazahnya.

Hari ini kita perlu instropeksi. Khusus saya, Betapa malu diri ini ketika begitu berbangga saat ada tulisan yang dimuat media masa. Padahal yang ditulis tidak mempunyai telaah mendalam. Tidak ada seujung kuku para ulama besar. Dan alangkah malunya diri ketika semua tulisan semata bermotif duniawi. Maka belajar sejarah memang membuka mata kita. Ada malu ketika tahu betapa jauhnya kita dari mereka dan ada motivasi untuk terus berusaha mengikuti jalannya.

Andi Ardi (Kontributor Gaulfresh dan Pengasuh PPTQ Insan Cendekia, Boyolali)

Andi ardiantoTsaqofahdepan,masa,sejarah,untukGaulfresh.com - Ali Zainal Abidin, cucu Ali bin Abi Thallib pernah berkata, 'Dulu kami diceritakan peperangan Rasulullah sama seriusnya sebagaimana kami diajarkan Al Qur'an' Apa yang bisa kita tarik dari perkataan mulia orang mulia ini? Ya, pentingnya sejarah, sirah Nabi dan orang-orang shalih digencarkan pada anak-anak, sebagaimana kita ajarkan...Refresh Your Mind
The following two tabs change content below.

Latest posts by Andi ardianto (see all)