Permasalahan demi permasalahan yang mengitari negeri dengan yang mayoritas muslim tak kunjung usai. Setiap mendengar berita baik cetak, media sosial, bahkan media TV kita disuguhkan berbagai tayangan demi tayangan yang menyelimuti begitu perihnya rakyat negeri ini dengan penuh masalah tak kunjung usai entah kapan berakhir.Pernah liat benang kusut? Tentunya pusing saat melihatnya. Begitulah kondisi negeri kita saat ini.

Saat ini kita dihadapakan dengan nasib generasi umat ini kedepan yaitu pencabulan anak. Maraknya pencabulan terhadap anak, termasuk pelecehan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap bocah yang ditemukan meninggal mengerikan dalam kardus, kembali mengetuk hati kita dan bertanya, Kemana penguasa negeri ini yang abai terhadap nasib masa depan generasi? kemana kemuliaan Islam dan umat Islam, di depan mata di sekitar kita – penindasan merajalela. inilah negeri berkeliarannya fedofilia tingkat akut?

Ketahuilah, bahwa persoalan kekerasan terhadap anak – anak, penyimpangan seksual bukan tiba – tiba. semua itu sebab tatanan sosial yang liberal sekuler yang menghantarkan permasalahan ini juga permasalahan lainnya.

Dimulai dari kerusakan dalam lingkup kecil yaitu rumah tangga. Kita melihat struktur keluarga sudah tidak utuh lagi. Islam telah mengatur bahwa pendidikan pertama seorang anak yaitu dirumah. Bagaimana ayah dan ibunya mampu menjadikan kondisi rumah yang nyaman dan mendidik anak dengan bekal kehidupan serta agama. Namun kondisi saat ini anak anak telah dirampas haknya dirumah. Banyak diantara mereka tak merasakan lagi kenyamanan apalagi pendidikan dalam keluarga, ibu yang seharusnya berkewajiban sebagai ummu warobatul al bayt namun karena desakan ekonomi harus menanggalkan tugasnya. Sehingga tak heran banyak anak-anak liar dan berkembang semaunya diluar rumah ,mereka tak ada lagi yang mengawasi aktivitas diluar rumah. mereka bergaul dengan sebebas bebasanya dan suka suka apa saja yang mau mereka lakukan. Tidak ada tuntunan apalagi tuntunan agama. lelaki dan perempuan campur aduk. Akhirnya karena pengaruh lingkungan menjadi korban homoseksual atau lesbian.

Khusus konteks pelaku fedofilia dan pembunuhan bocah, mau berzinah tak punya ‘uang’, mau punya uang tidak ada pekerjaan, mau bekerja tak punya ilmu (pendidikan) mau memiliki pendidikan biaya mahal, akhirnya persoalan jadi akut ditambah lagi Negara menjauhkan masyarakatnya dari agama, negara tak memberikan kemudahaan untuk menikah karena biaya mahal dan lengkaplah persoalan negeri ini.

Jadi intinya fedofilia itu karena sistem sosial yang liberal, pendidikan yang materialisme ekonomi yang kapitalisme. dan tentunya karena sistem politik pemerintahaan yang menggunakan demokrasi.

Seakan tuli akan kabar itu, para pengusung demokrasi bermanis muka – malah memberikan solusi tak bermakna dan menyesatkan. yang parahnya solusi itu bercontoh pada bagaimana barat menyelesaikan persoalan fedofilia ini. seolah olah dengan mencontoh barat maka masalah negeri ini akan selesai. Namun sebaliknya akan menimbulkan pro kontra bahkan kecacatan yang terjadi dengan masalah baru bermunculan.

Lihatlah bagaimana respon menteri sosial yang menyarankan bahwa pelakunya di kebiri saja agar naluri kelelakiannya hilang. Padahal islam melarang orang untuk melakukan pengebirian. Karena tindakan seperti ini sama-sama dapat memutuskan keturunan.

Sa‘ad ibn Abî Waqâsh RA berkata: “Rasulullah SAW telah menolak ‘Utsmân ibn Mazh‘ûn untuk hidup membujang (tabattul). Seandainya itu diizinkan, niscaya kami akan melakukan pengebirian.”(Muttafaq ‘alaihi)

Seharusnya para penguasa negeri ini menganggab mereka para fedofilia tingkat akut ini bukan hanya sebagai penyakit masyarakat tapi sebuah tindakan kriminal dan layak dihukum keras dan berefek jera terhadap pelaku. Layaknya kriminalitas lain.

Memang berharap pada sistem di negeri ini itu sulit untuk menyelesaikan persoalan ini. Karena dalam pandangan hukum di negeri ini orang – orang seperti (LGBT dan fedofolia) terjadi karena kelainan genetik. penyakit bawaan dan tak bisa di tolak keberadaannya. Mereka memiliki hak untuk hidupnya masing masing, dan mereka di lindungi undang undang. Belum lagi masyarakat LSM liberal sudah pada pikun melihat realitasa ini. mereka menilai ini lumrah dan harus di dukung. karena itu tak heran pembiaran kejahatan model ini terus terjadi akan kembali terjadi.

Setali tiga uang. Antara fedofilia, LGBT dan orang liberal yang membolehkan pernikahaan sejenis. Gerakan liberal di indonesia yang memulai dan mereka yang membanggakan adanya model pernikahaan hewani ini. menurut laporan UNDP dan USAid 2014 mereka mengklaim sudah memiliki jaringan 119 organisasi pendukung LGBT di Indonesia dan jumlah pelakunya jutaan di Indonesia. sangat miris sekali kita melihat data ini. sungguh ironis negeri dengan berpendudukan mayoritas namun justru hukum barat menjadi kitab yang diagungkan. Maka tak ada harapan jika terus mempertahankan sistem yang berasal dari manusia ini yaitu sistem kapitalisme demokrasi. Sudah seharusnya berpaling kepada islam yang mempunyai sebuah solusi dan akan menyelamaktan generasi serta yang pasti kita akan selamat dari maksiat dan dosa yang terus ada hingga masalah ini selesai.

Semua masalah terkait anak itu berakar pada sistem sekular kapitalis liberal yang diterapkan di berbagai lini kehidupan saat ini. Selama sistem sekular kapitalis liberal itu terus dipertahankan maka perlindungan terhadap anak akan terus menjadi problem.
Perlindungan anak hanya bisa diwujudkan dengan menerapkan sistem islam, khilafah. sistem islam akan mampu mewujudkan perlindungan terhadap anak dengan tiga pilar: ketakwaan individu, kontrol masyarakat serta penerapan sistem dan hukum islam oleh negara.
Islam memandang homoseksual lesbi dan pedofili sebagai tindak kejahatan atau kriminal besar. Penyimpangan seksual ini harus dijatuhi sanksi yang berat. Nabi saw. bersabda:

“Siapa saja yang kalian jumpai melakukan perbuatan kaum Nabi Luth as. maka bunuhlah pelaku dan pasangan (kencannya)” (HR. Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah).

“Rajamlah (lempar dengan batu) bagi yang melakukan sodomi dan disodomi, rajamlah keduanya.” (HR. Ibnu Majah no. 2562. Hadits ini hasan dilihat dari jalur lainnya sebagaimana kata Syaikh Al Albani)

Oleh  : Hikari Ilahi, Kontributor GF

 

Hikari-IlahiNewsPermasalahan demi permasalahan yang mengitari negeri dengan yang mayoritas muslim tak kunjung usai. Setiap mendengar berita baik cetak, media sosial, bahkan media TV kita disuguhkan berbagai tayangan demi tayangan yang menyelimuti begitu perihnya rakyat negeri ini dengan penuh masalah tak kunjung usai entah kapan berakhir.Pernah liat benang kusut? Tentunya...Refresh Your Mind
The following two tabs change content below.

Hikari-Ilahi

Re-established life of islam

Latest posts by Hikari-Ilahi (see all)