SIAPA KITA.

    gaulfresh.com – Jika kita bertanya pada diri sendiri: “siapa kita?”
    Tentunya kita akan memberikan predikat atau label sesuka kita pada diri masing-masing. Namun, jika pertanyaan yang sama dilontarkan kepada orang lain untuk menilai kita maka akan kita temukan ada jawaban yang sama dan ada pula berbeda. Jawaban yang akan diberikan tentang label diri siapa kita tentunya terpengaruh oleh interaksi kita dengan orang tersebut. Interaksi kita dengan orang lain akan menghasilkan sebuah persepsi siapa kita pada orang tersebut. Label yang diberikan sesuai dengan cara berinteraksi dan cara penunjukkan diri yang kadang kita sadar kadang pula tidak sadar. Labeling pada diri merupakan interpretasi yang dimunculkan dari dalam diri kepada setiap orang.
    Penyematan label siapa diri kita adalah hasil dari setiap aktivitas baik ucapan maupun sikap ketika dihadapan seseorang atau sekelompok orang. Jika aktivitas yang dilakukan cenderung maksiat maka akan memunculkan persepsi diri tersebut adalah ahli maksiat, begitu pula sebaliknya. Ada pula persepsi ‘siapa kita?’, muncul dari penginderaan terhadap penampakan fisik lahiriyah, seperti cara berpakaian, gaya rambut, dan aksesoris fisik lainnya. Seorang pencuri jika didandani seperti kiyai maka tidak akan nampak diri sebenarnya si pencuri. Begitu pula sebaliknya jika seorang ustadz menggunakan pakaian dan aksesoris preman maka tak nampak ke-ustadzannya.
    Kesimpulannya ada dua hal yang dapat menjadi label diri kita:
    1. Kepribadian (Pola pikir dan Pola Sikap)
    2. Penampakan Lahiriyah (Pakaian dan Gaya Hidup)
    Siapa kita? Hanya akan terjawab pada diri masing-masing. Bagaimana interaksi dan penampilan lahiriyah yang selama ini kita lakukan pada orang sekitar tentu akan menjawabnya.
    Bagi pengemban dakwah hal ini akan merupaka hal yang menjadi titik perhatian utama, sebab dalam interaksi pengemban dakwah harus melakukan aktivitas dirinya sebagai pengemban dakwah. Label pengemban dakwah hanya akan dapat muncul dari persepsi orang lain jika aktivitasnya memang adalah dakwah berupa mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.
    وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ -١٠٤-
    Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS.Ali-Imran:104) Menyandang label pengemban dakwah harus memahami dengan baik mengenai konsekuensi yang harus dijalani. Konsukuensi menjadi pengemban dakwah yang paling utama adalah keterikatan dengan hukum syara’. Sebagai pengemban dakwah harus senantiasa menjadikan syariat dihadapanya, setiap aktivitas harus disandarkan pada hukum syara’. Sehingga standar dalam berbuat adalah halal atau haram. Jika pengemban dakwah bergabung dalam jama’ah dakwah maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya, ketaatan terhadap pemimpin jama’ah, keikhlasan dalam menjalankan amanah dakwah, dan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan harta.
    Pilihan yang diambil untuk menjadi pengemban dakwah penuh dengan rintangan dan ujian serta dalam dakwah tidak ada waktu untuk bersantai ria. Para pengemban dakwah sadar betul akan kewajiban ini sehingga dalam benaknya hanyalah bagaimana dakwah ini berjalan sesuai tuntunan Rasul agar umat dapat bangkit dari keterpurukan yang tiada habisnya.
    Label pengemban dakwah hanya akan nampak apabila para pengembannya melakukan:
    1. Berani dalam menyampaikan kalimat yang haq di mana pun dan kapanpun.
    من رأى منكم منكرا، فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان
    Dari Abu Sa’id Al Khudri ra : ‘Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya, dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim)

    2. Tidak malu menampilkan dan memperkenalkan diri sebagai pengemban dakwah.
    Para sahabat Rasul menunjukkan tekad yang kuat dalam dakwah sehingga mereka dengan lantang mendeklarasikan diri mereka kepada kafir Quraisy bahwa mereka adalah orang-orang beriman yang menentang agama nenek moyang Quraisy.

    3. Pemberani dalam menentang kedzaliman
    اِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَ رَسُوْلُه وَ الَّذِيْنَ امَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلوةَ وَ يُؤْتُوْنَ الزَّكوةَ وَ هُمْ رَاكِعُوْنَ
    Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan tunduk kepada Allah. [QS. Al-Maidah : 55]
    4. Memiliki kemampuan problem solving yang bersumber dari Islam.
    Sebagai pengemban dakwah tentunya senantiasa peka dengan kondisi sekitarnya.
    Memahami akan keadaan yang harus diubah | bukan malah diubah oleh keadaan
    وَ مَنْ يَّتَوَلَّ اللهَ وَ رَسُوْلَه وَ الَّذِيْنَ امَنُوْا فَاِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ اْلغلِبُوْنَ

    Dan barangsiapa yang mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. [QS. Al-Maidah : 56]

    5. Menjaga lisan, hanya bicara yang baik jika tidak maka diam.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ
    “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS 61 :2)

    Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya ia mendengar Rosululloh Muhammad saw bersabda:
    “Sesungguhnya seseorang hamba itu niscayalah berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia fikirkan – baik atau buruknya -, maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat” (Muttafaq ‘alaih)

    Dari Abu Hurairah ra., Rosululloh Muhammad saw. bersabda:
    “Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau – kalau tidak dapat berkata yang baik, hendaklah ia berdiam diri saja” (Muttafaq ‘alaih, Kebanyakan Ulama Hadits)

    6. Memiliki Adab Para Pembelajar
    Menghormati & memuliakan orang yang berilmu (musyrif, dosen, guru) dan orangtua. Merupakan bagian adab yang diajarkan oleh para ulama terdahulu. Pengemban dakwah hendaknya memiliki ada ini agar dalam dakwahnya senantiasa mendapat ridho Allah.

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang: yaitu (1) orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan (2) orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi)

    Sombong dan malu menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan ilmu selama kedua sifat itu masih ada dalam dirinya.

    Imam Mujahid mengatakan,

    لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ

    “Dua orang yang tidak belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong”

    Mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan ustadz, syaikh atau guru

    Allah Ta’ala berfirman, “… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.”
    (QS. Az-Zumar: 17-18)

    Ketika belajar dan mengkaji ilmu syar’i tidak boleh berbicara yang tidak bermanfaat, tanpa ada keperluan, dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syar’i yang disampaikan, tidak boleh berbincang. Allah Ta’ala berfirman:
    “dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raaf: 204) [mrizki]

    Muhammad Rizki (kontributor gaulfresh)

    http://gaulfresh.com/wp-content/uploads/2016/03/SIAPA-KITA.-1024x576.jpghttp://gaulfresh.com/wp-content/uploads/2016/03/SIAPA-KITA.-150x150.jpgRizkiMotivasiDakwah,kita,pengemban,Siapa??gaulfresh.com - Jika kita bertanya pada diri sendiri: “siapa kita?” Tentunya kita akan memberikan predikat atau label sesuka kita pada diri masing-masing. Namun, jika pertanyaan yang sama dilontarkan kepada orang lain untuk menilai kita maka akan kita temukan ada jawaban yang sama dan ada pula berbeda. Jawaban yang akan diberikan...Refresh Your Mind