(sambungan dari artikel sebelumya)

nukeGaulFresh.Com

Janji 5: Peningkatan Kualitas Udara Lebih Lanjut

Penggunaan Bensin dan Solar untuk menyalakan mesin kendaraan bermotor turut menyumbang jutaan ton CO2 ke udara tiap tahunnya. Perannya terhadap perubahan iklim dan efek rumah kaca, termasuk juga penurunan kualitas udara, tidak bisa diabaikan. Polusi dan kabut asap yang diciptakan kendaraan bermotor makin membuat manusia sulit mendapat udara bersih dan sehat. Utamanya di tempat yang padat transportasi, macam Beijing, Mexico City, Bangkok, dan Jakarta.

Di sisi lain, kebutuhan akan kendaraan bermotor adalah sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat. Hampir bisa dikatakan bahwa transportasi menggunakan kendaran bermotor telah menjadi kebutuhan dasar manusia zaman ini. Apalagi untuk pengangkutan barang antar pulau, antar negara, dan antar benua. Bisa dibayangkan betapa kacaunya tatanan yang berlaku saat ini jika transportasi mendadak terhenti.

Karena itulah, perlu dirancang skema lain untuk sarana transportasi yang paling ramah lingkungan. Salah satu konsep yang paling layak digunakan adalah penggunaan Hydrogen fuel cell sebagai pengganti bahan bakar fosil.

Substitusi minyak bumi sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dengan Hydrogen fuel cell akan, tentu saja, memberikan dampak yang luar biasa pada kualitas udara. Bukan apa-apa, sebab layaknya PLTN, Hydrogen fuel cell tidak membuang polusi apa-apa ke udara! Emisi yang dihasilkannya hanyalah air biasa. Air ini merupakan hasil reaksi dari Hidrogen dan Oksigen. Ketika Hidrogen dan Oksigen direaksikan untuk menghasilkan listrik, terbentuklah air. 100% aman untuk diminum dan tidak berbahaya sedikitpun bagi lingkungan.

Sementara, seperti sudah dibahas sebelumnya, Hidrogen ini dapat dibentuk dari PLTN, menggunakan sistem kogenerasi suhu tinggi berupa Radiolisis Air. Produksi Hidrogen dengan cara ini akan menghemat biaya, sekaligus menunjukkan bahwa energi nuklir bisa multifungsi.

Lantas bagaimana dengan kapal-kapal pengangkut barang? Karena tidak mungkin menggunakan Hydrogen fuel cell, maka kapal lebih baik dirancang untuk menggunakan reaktor nuklir mini untuk pendorong kapal. Mirip dengan yang digunakan di kapal selam. Reaktor ini tidak menghasilkan listrik, cukup menghasilkan panas untuk menggerakkan mesin.

Dari sini, sulit untuk menemukan sistem lain yang lebih ramah lingkungan dan mampu memperbaiki kualitas udara daripada energi nuklir.

Janji 6: Suplai Daya Hampir Tak Terbatas

Bahan bakar fosil, sebagaimana sudah dijelaskan sejak level SMP, adalah SDA tak terbarukan. Jumlahnya di alam terbatas, dan lama kelamaan akan habis juga. Estimasi batubara hanya bisa bertahan 155 tahun ke depan, minyak bumi selama 42 tahun, dan gas alam selama 65 tahun. Itu semua dengan asumsi laju pemakaian flat, tidak ada kenaikan tiap tahunnya. Padahal realitanya tiap tahun penggunaan bahan bakar fosil pasti naik. Kalau tidak diantisipasi, maka krisis energi bisa cepat mendera. Belum lagi harga-harganya yang pasti akan makin melambung tinggi seiring makin langkanya bahan bakar tersebut.

Hal ini meniscayakan perlunya mencari sumber energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi dunia yang terus meningkat. Alternatifnya, tentu saja, penggunaan energi nuklir, yang selama ini telah terbukti menghasilkan daya secara lebih efisien. Memang, jika menggunakan bahan bakar yang bisa dipakai saat ini saja, nuklir juga tidak bisa bertahan terlalu lama. Walau begitu, teknologi reaktor maju sudah dikembangkan dan dalam waktu tidak terlalu lama akan siap untuk dikomersialkan.

Ada dua bahan bakar utama untuk menghasilkan daya nuklir, yakni Uranium dan Thorium. Uranium kebanyakan berupa isotop U-238, yang sifatnya fertil dan tidak bisa dengan mudah di-fisi-kan untuk menghasilkan daya. Tapi dengan penggunaan reaktor maju, U-238 ini kelak akan bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan energi nuklir layaknya isotop U-235.

Sebagaimana U-238, Thorium juga tidak bisa serta merta digunakan untuk menjadi bahan bakar nuklir. Tapi dengan penggunaan reaktor maju, Thorium pun bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan daya. Tentunya dengan harga listrik yang sangat murah dan efisiensi yang luar biasa tinggi. Berita baiknya juga: Thorium menghasilkan sangat sedikit limbah, itupun tidak terlalu berbahaya.

Penggunaan energi nuklir bisa menjamin keberlangsungan energi selama ratusan bahkan ribuan tahun ke depan. Untuk ilustrasi, diambil contoh Indonesia menggunakan bahan bakar Thorium. Cadangan Thorium yang terbukti di Indonesia mencapat 170 ribu ton Thorium. Untuk menghasilkan listrik 1 GWe, hanya dibutuhkan 1 ton (bahkan kurang) Thorium. Maka, kalau ada 170 Unit reaktor nuklir berbasis Thorium di Indonesia, dengan daya total 170 GWe (3 kali lipat kapasitas listrik Indonesia saat ini), cadangan Thorium saja sudah bisa bertahan selama 1000 tahun! Itu belum memanfaatkan Uranium yang ada di Indonesia. Jika turut dimanfaatkan, bisa lebih lama lagi keberlangsungannya dan lebih besar lagi dayanya.

Jika reaktor fusi berhasil dikembangkan, maka umat manusia ke depannya tidak perlu khawatir lagi dengan kekurangan energi. Reaktor fusi nuklir meniscayakan keamanan suplai daya selama jutaan tahun.

Jumlah Uranium dan Thorium di dalam bumi untuk memenuhi kebutuhan listrik dunia sudah lebih dari cukup untuk bertahan ribuan tahun ke depan. Meski baru benar-benar bisa dimanfaatkan ketika reaktor maju sudah komersial, tapi setidaknya itu tidak lama lagi. Menurut rencana, sekitar tahun 2030 reaktor maju benar-benar akan dikomersialkan.

Konklusi

Setuju atau tidak, kebutuhan negeri ini dan dunia akan teknologi nuklir tidak bisa dielakkan lagi. Jepang, yang men-shut down seluruh reaktor nuklirnya pasca kecelakaan Fukushima, mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi dan terlalu banyak ketergantungan pada gas alam yang polutif. Sehingga, Jepang mencanangkan untuk membuka kembali reaktor nuklirnya.

Indonesia? Sudah lebih dari butuh. Kebutuhan listrik Indonesia, jika ingin bisa menjadi negara industri, setidaknya butuh 150 GWe. Sekarang baru terpenuhi sekitar 30 GWe. Bagaimana bisa meningkatkan kebutuhan sebesar itu tanpa nuklir? Energi terbarukan? Mustahil. Batubara? Mau merusak udara lebih buruk lagi? Air? Potensi tinggal setengahnya, tidak cukup sama sekali. Impor listrik? Oke, orang waras mana yang mau melakukannya di negeri ini?

Tidak ada kemungkinan lain yang bisa dipakai selain nuklir. Satu-satunya sumber energi yang menjanjikan banyak benefit bagi umat manusia dan paling memungkinkan untuk dipakai demi mengatasi masalah energi dunia saat ini.

Maka, pertanyaannya bukan lagi “Bisa atau tidak?”. Itu pertanyaan kuno dan terbelakang. Teknologi sudah berkembang cukup jauh untuk menjamin PLTN bekerja dengan seharusnya. Yang jadi pertanyaan sekarang, untuk pengembangan energi nuklir, utamanya di negeri ini, adalah “Mau atau tidak?”. Lagi-lagi soal kemauan, mau mendapatkan manfaat nyata yang dijanjikan daya nuklir atau tidak? [APD]

http://gaulfresh.com/wp-content/uploads/2015/08/nuke-1024x1024.jpghttp://gaulfresh.com/wp-content/uploads/2015/08/nuke-150x150.jpgAndhika DwijayantoIptekiptek,janji nuklir,nuklir,PLTN(sambungan dari artikel sebelumya) GaulFresh.Com Janji 5: Peningkatan Kualitas Udara Lebih Lanjut Penggunaan Bensin dan Solar untuk menyalakan mesin kendaraan bermotor turut menyumbang jutaan ton CO2 ke udara tiap tahunnya. Perannya terhadap perubahan iklim dan efek rumah kaca, termasuk juga penurunan kualitas udara, tidak bisa diabaikan. Polusi dan kabut asap yang diciptakan...Refresh Your Mind
The following two tabs change content below.
Mahasiswa Program Studi Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada yang antusias pada dunia kepenulisan, utamanya genre fiksi ilmiah dan fiksi fantasi. Sampai saat ini, dia sudah menerbitkan satu novel fantasi dan empat naskah antologi.

Latest posts by Andhika Dwijayanto (see all)