Gambar-Pemandangan-Laut-biruGaulFresh.com-Istilah jales veva jaya mahe berasal dari bahasa sansekerta yang artinya di lautan kita jaya. Slogan ini awalnya digunakan oleh para tentara AL Indonesia. Namun sekarang sering diteriakkan (dijadikan slogan) oleh mahasiswa perikanan/kelautan di seluruh Indonesia. Ya, kurang lebih seperti itu..

Dilautan kita jaya…

Sekilas jika kita baca kata tersebut, seolah-olah seperti angin pembawa kabar gembira. Layaknya kita merasa ada sebuah harapan akan kenikmatan melimpah yang akan menyejahterakan manusia, khususnya di negeri Indonesia. Ya, dengan kelimpahan sumber daya laut yang dimiliki oleh Indonesia, jika kita optimalkan pemanfaatannya dengan sistem peraturan yang benar, maka akan menjadikan negeri kita jaya.

Dilautan kita jaya…

Kalimat tersebut semestinya membuat kita berpikir dan bertanya, berapa jumlah ikan-ikan yang hidup dilaut sana? berapa barel minyak dan sumber energi  yang terkandung di dasar laut? Berapa jumlah sumberdaya laut  yang lainnya? Jawabannya adalah: tak terhingga. Tapi..apakah kita sudah merasakan ‘kejayaan’ itu?

Sama-sama kita rasa, bangsa ini justru semakin jauh dari status jaya. Paradigma bangsa ini memang perlu dirubah. Bahwa kita tidak harus mengandalkan hasil daratan, karena lautan yang luas ini dan kandungannya jauh lebih melimpah dibandingkan di darat. Konsep pembangunan ekonomi berbasis kelautan yang berkelanjutan sudah kita rancang dan aplikasikan bersama beberapa tahun yang lalu. Pengenalan mengenai budidaya ikan sudah digalakan sejak lama. Belum lagi di sektor yang lainnya. Tapi bagaimana hasil akhirnya?  Semestinya, ada hal yang harus kita cermati bersama. Mari kita berfikir lebih jauh …Kejayaan itu pergi kemana?

Hal yang harus kita tanyakan terlebih dahulu sebenarnya adalah bentangan samudera biru beserta segala isinya itu milik siapa? Sadari atau tidak, semua nya adalah pemberian dari Sang Pencipta. Dia lah pemilik seluruh alam semesta. Betapa sombong dan rakusnya manusia ketika anugerah (kekayaan alam) yang Ia berikan dikuasai oleh beberapa orang saja, padahal semua itu harus dinikmati bersama, dan hak milik mengelola adalah negara. Maka lihatlah dengan seksama wahai saudara! Bentangan laut yang biru itu sekarang milik siapa? Pemiliknya adalah mereka, para penjajah terselubung yang menyamar sebagai kawan dengan status hubungan “kontrak karya”. Mereka dapat dengan mudah menguasai sebagian wilayah laut/pesisir atas nama miliknya. Sehingga inilah yang kita rasakan bersama. Dan apakah kau tahu apa penyebabnya teman? Tak lain adalah sistem ekonomi neoliberal yang sedang kita pakai hingga saat ini. Dimana kepemilikan harta tidak diatur dengan benar dan tidak  diserahkan kepada yang berhak memilikinya. Mereka adalah pemilik sebesar-besarnya modal, atau kita sebut sebagai kapital. Maka wajar jika saat ini kita lihat beberapa kelompok atau individu tertentu dapat memiliki pulau, atau pengeboran minyak dilaut lepas yang keuntungannya hanya kembali ke kantong pribadi dan koleganya. Sistem ekonomi liberal inilah yang telah merenggut kejayaan laut yang seharusnya kita nikmati hasilnya.

Inginkah kita renggut kembali kejayaan laut yang kita punya? Maka mulailah sadar dengan kondisi yang ada, penjajahan gaya baru yang sedang dijalankan oleh kampiun-kampiun kapitalisme takkan pernah usai jika kita hanya menikmati dan nyaman dengan sistem kehidupan ini.  Dan sebagai makhluk yang diberi tempat tinggal (planet) yang layak oleh Allah, maka tidak pantas kita menerapkan aturan lain selain dari-Nya, karena #LautIniMilikAllah | Kelola sesuai dengan aturan Allah | kita tidak hanya akan jaya, tapi juga hidup mulia

Oleh: Ummu Kultsum (Kontributor GaulFresh)

http://gaulfresh.com/wp-content/uploads/2015/11/Gambar-Pemandangan-Laut-biru.jpghttp://gaulfresh.com/wp-content/uploads/2015/11/Gambar-Pemandangan-Laut-biru-150x150.jpgUmmu KultsumIptekislam dan kelautan,laut,peraturan islamGaulFresh.com-Istilah jales veva jaya mahe berasal dari bahasa sansekerta yang artinya di lautan kita jaya. Slogan ini awalnya digunakan oleh para tentara AL Indonesia. Namun sekarang sering diteriakkan (dijadikan slogan) oleh mahasiswa perikanan/kelautan di seluruh Indonesia. Ya, kurang lebih seperti itu.. Dilautan kita jaya… Sekilas jika kita baca kata tersebut, seolah-olah seperti angin...Refresh Your Mind
The following two tabs change content below.
Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya yang sedang belajar Pemetaan Sumberdaya Pesisir dan Laut, Desain Grafis, serta Menulis.

Latest posts by Ummu Kultsum (see all)