akal-sehatGaulfresh.com-Beberapa tahun silam saya punya teman yang berpacaran. Sebut saja mamanya Bani. Suatu waktu ada orang yang melapor pada Bani kelakuan buruk pacarnya. Bani memang tidak marah di depan pelapor tapi ternyata di belakang dia mengumpat, “Tahu apa si dia soal pacarku. Harusnya dia itu ga perlu deh ikut campur urusanku dengan pacarku. Aku kan lebih mengenal Mawar (bukan sebenarnya)”

Tapi… Beberapa tahun kemudian ketika keduanya putus barulah Bani mencela Mawar. Mawar pun tidak mau kalah membuka aib Bani selama pacaran. Saling serang membuka keburukan. Ya benar, ketika pacaran seseorang akan berbuat lebih untuk menutupi kekurangannya demi tampil oke di hadapan pujaan, terutama di masa pedekate dan awal pacaran. Aib diri sebisa mungkin ditutup. Meski keduanya sebenarnya sama-sama tersiksa karena harus menjadi orang lain.

Pacaran itu kerap menutup akal sehat seseorang untuk berfikir jernih. Pokoknya mau benar mau salah sang pacar akan tetap dibela. Beda kalau sudah putus, dibuka semua aibnya. Itulah mengapa sering kita dengar umpatan orang yang putus setelah pacaran bertahun-tahun. “Dia telah berubah”, “Tidak seperti yang aku kenal dulu”, “Dia kasar dan suka mempermainkan perasaan”, ” Kami sudah tidak ada kecocokan” Adalah beberapa kalimat yang sering terlontar di balik alasan putus.

Sebenarnya si doi itu tidak ada perubahan sebelum jadi pacar atau setelah jadi pacar. Dianya saja yang menutupi tabiat aslinya demi menarik perhatian lawan jenis. Dan tabiat itu tidak akan seketika hilang. Kalau dia sudah dapat target keluar deh karakter aslinya. Ya… Saya tahu kasus seperti itu memang tidak terjadi pada setiap aktivis pacaran. Hanya saja hampir semua yang pacaran itu tidak menampilkan karakter sesungguhnya, terutama saat pedekate dan awal pacaran.

Itulah mengapa Islam mengenalkan proses ta’aruf dalam memilih jodoh. Proses ta’aruf akan lebih jujur dan menampilkan siapa dia sebenarnya. Kedua belah pihak bisa saling mengetahui tabiat calon jodohnya lewat penggalian informasi langsung atau lewat orang terdekat. Informasi orang terdekat bisa sangat bernilai tentang siapa dia karena lebih objektif.

Dan kemantapan hati untuk lanjut atau tidak ke jenjang pernikahan tidak dimonopoli nafsu karena melibatkan Allah setelah meminta petunjuk lewat shalat istikhoroh. Lebih indah bukan. Jadi, pilih yang mana?

Andi Ar

(Kontributor Gaulfresh dan Peminat Pendidikan)

Andi ardiantoArtikelakal,pacaran,Sehat,Ta'arufGaulfresh.com-Beberapa tahun silam saya punya teman yang berpacaran. Sebut saja mamanya Bani. Suatu waktu ada orang yang melapor pada Bani kelakuan buruk pacarnya. Bani memang tidak marah di depan pelapor tapi ternyata di belakang dia mengumpat, 'Tahu apa si dia soal pacarku. Harusnya dia itu ga perlu deh ikut...Refresh Your Mind
The following two tabs change content below.

Latest posts by Andi ardianto (see all)