1838339545pGaulFresh.Com – Joko bukan orang yang doyan sama pelajaran Kewarganegaraan. Sejak awal dia menginjakkan kaki di lantai SD, sampai menduduki kursi SMA, Kewarganegaraan (atau dulu namanya PPKn, sama aja) adalah pelajaran yang paling bikin Joko mumet.

Nggak tahu karena dasarnya suka sama eksak atau emang terlalu malas, Joko nggak pernah bisa ingat sama pengertian masyarakat menurut blah blah blah atau jenis-jenis hukum blah blah blah dan sebagainya. Kebanyakan hafalan begitu bikin otaknya mumet, muter-muter, mungkin sampe mabok. Bahkan dia nggak tahu siapa itu Voltaire atau Rousseau atau Gladstone. Tapi kalau giliran berurusan sama astronomi, matematika, fisika, dan sejenisnya, Joko bisa jadi Wikipedia berjalan.

Nggak heran, pas lagi UTS, UAS, sama ulangan harian, nilai mapel Kewarganegaraan Joko nggak ada yang beres.

Dan sekarang, Joko harus berhadapan dengan tugas yang menurutnya sama sekali nggak ada nyambung-nyambungnya sama Kewarganegaraan: Mempelajari kasus perburuhan di Sukabumi. Untungnya, tugas ini bisa dikerjain berkelompok, jadi Joko nggak harus menderita sendirian.

“Oke, jadi mau kasus apa yang kita ambil? Buruh yang mana?” tanya Joni. Dia, Joko, dan Jaya (temen kelompok mereka) lagi diskusiin masalah tugas itu di meja paling pojok di kelas.

“Terserah aja deh.” Sahut Joko enggan.

“Yee, jangan terserah terserah gitu, dong. Yang pasti, napa?”

“Gue ngikut aja dah.”

Joni mendengus.

“Masalah pekerja garmen gimana?” usul Jaya. “Kayaknya bagus tuh, soalnya kasusnya berkaitan dengan orang-orang yang harusnya dalam usia menempuh pendidikan, dan ada juga yang udah menikah.”

Joni menimbang-nimbang sebentar. “Usul bagus. Gimana menurut lo, Ko?”

“Boleh.” Jawab Joko singkat.

“Oke, kalau gitu besok kita mulai penelitiannya.”

“Besok? Kita kan harus sekolah, Jon?” tanya Jaya.

“Ya bukan pas kita masih sekolah lah, bego. Pas pulang!” sungut Joko. Jaya nggak ngebales.

“Mau garmen yang mana? Di sekitar sini kan banyak, apa…”

“Yang di deket Bojongkokosan aja. Sekalian pulang.” Potong Joko. Kebetulan rumah mereka bertiga memang melewati daerah yang disebut Joko.

“Hm.. Boleh. Berarti besok dari sini kita pulang habis Ashar aja, garmen kan bubar sekitar jam 4.” Kata Jaya.

“Sepakat.” Sahut Joko dan Joni bareng.

Dan berarti gue harus pake obat mata biar nggak sakit mata pas di sana, gumam Joko dalam hati.

***

Malamnya, Joko mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk penelitian itu, yang sebenernya nggak perlu menyiapkan sesuatu yang khusus, istimewa, atau aneh. Peralatan tulis standar, camcorder, sama obat mata disiapin dan dimasukin ke tas, biar nggak lupa. Penyakit paling parah Joko adalah dia sering lupa buat bawa perlengkapan yang udah disiapin malamnya, kalau nggak dimasukin ke tas.

Beres semua, Joko buka internet di laptopnya. Browsing membunuh kebosanan.

Dan seperti biasanya, dia liat situs berita. Nyari-nyari berita tentang buruh garmen, apa ada yang lagi demo atau bikin rencana pemberontakan dan pembakaran pabrik tempat kerja mereka, atau barangkali rencana bakar diri di depan pabrik buat micu revolusi. Sayangnya nggak ada.

“Eksploitasi, penyiksaan TKW, terus apa lagi ini… nuntut naik gaji. Ya ampun. Kayak gini doang.” gumamnya. “Garmen itu jarang ada yang ribut sampe bikin kerusuhan massal kali, ya?”

Ngomong-ngomong, di Kabupaten Sukabumi memang banyak garmen. Dari rumah Joko di Cicurug sampe SMA-nya di Cibadak aja, paling nggak ada delapan garmen yang berdiri. Dan itu sukses bikin anak-anak sekolah yang telat berangkat frustrasi tiap hari gara-gara macet dan kelangkaan angkot.

Well, sebenernya angkot di sana banyak. Tapi pas jam-jam mau masuk kerja, mereka seringkali cuma mau ngangkut karyawan garmen doang.

Belum lagi kalau harus duduk seangkot sama karyawan garmen yang kebanyakan.. ralat, 99,999% bebas kuman perempuan. Penampilannya itu loh, bikin orang-orang kayak Joko, yang tahu syariat, jadi keder. Bahkan Joko lebih suka telat datang ke sekolah daripada harus naik angkot yang ngangkut karyawan garmen.

Terkesan keras, tapi ya itulah Joko.

“Dengan mengenakan pakaian yang kurang bahan, mereka disuruh oleh pabrik membuat pakaian yang kurang bahan pula. Bener-bener prinsip kapitalis, mendapatkan untung sebesar-besarnya dengan modal seminimal-minimalnya.” Gerutu Joko. “Apa produksi kapas udah mulai berkurang atau gimana, sih? Atau pabrik itu kurang dapat suplai? Nambahin dosa aja, bikin baju kok yang mampangin aurat cewek. Dijual bebas pula, duh… Dasar sekulerisme kampret.”

Joko lanjut internetan sampe jam 10 malam. Ngerasa nggak ada berita yang menarik lagi, Joko matiin laptopnya dan tidur.

***

Cuaca cerah, angkot pengap, dan musik sarap mengiringi perjalanan Joko, Joni, dan Jaya menuju garmen di wilayah Bojongkokosan. Dalam pandangan Joko, si sopir punya selera musik yang kampungan. Lagu dangdut elektrik yang liriknya sampah aja yang diputer dari awal mereka masuk sampe mau turun. Sekalipun Joko udah masang headset di kupingnya sampe volume maksimal, tetep aja suara speaker mobil lebih menggelegar.

Dan sepanjang perjalanan, Joko nggak pernah berhenti menggerutu.

“Gue pikir kasihan juga sebenernya para pekerja garmen itu. Mereka disuruh kerja dari pagi sampe sore tapi nggak dapat bayaran yang setimpal.” Kata Jaya.

“Emang sih.” Sahut Joni. “Paling nggak ya UMR mereka dinaikin lah, kalau cuma dapet sekitar 800rb per bulan, mau diapain? Kecil banget.”

“Lebih dari itu,” potong Joko nggak sabar. “Kenapa mereka harus kerja jadi pegawai di garmen kayak begitu?”

Joni dan Jaya bengong.

“Ya buat nyari duit lah, lo pikir buat apaan? Dikiranya dia nggak butuh makan?” sungut Jaya.

“Pertanyaan lagi, kenapa harus mereka yang kerja? Apalagi banyak di antara mereka yang udah punya suami.”

“Er… itu ya karena… eh? Ya suaminya nggak bisa mencukupi nafkahnya, kayaknya gitu.” Kata Joni.

“Pertanyaan berikutnya, kenapa suaminya nggak bisa mencukupi kebutuhan keluarga mereka?”

“Ya itu… eh, lo ngapain nanya-nanya gituan? Mau bikin kuis?” tanya Jaya.

“Kagak, gue cuman mau tahu aja gimana pemikiran kalian masalah ini.”

“Emang lo sendiri mikirnya gimana?” tanya Joni.

“Nanti aja, kita udah sampe nih. Kiri, mang!”

Angkot berhenti di pinggir jalan (sengaja dijelasin, soalnya di depan mereka ada angkot yang berhenti di tengah jalan). Tiga orang itu turun dan bayar ongkos.

“Alhamdulillah turun juga, kuping gue pengang rasanya denger lagu sampah tadi.” Kata Joko.

“Oke, nanti kita nanya beberapa orang karyawan garmen itu sendiri-sendiri…” tatapan Joko dan Jaya bikin Joni meralat kalimatnya, “ehm, bareng-bareng. Inti dari pertanyaannya itu ya tentang bagaimana kehidupan mereka selama jadi pekerja garmen, apa alasan mereka kerja di garmen, tentang gaji yang didapat apakah cukup, dan sejenisnya. Oke?”

Joko dan Jaya mengangguk setuju.

“Sip. Dan pastiin kita semua ikut nanya, nggak cuma gue doang atau lo doang atau lo doang,” Joni nunjuk Joko dan Jaya. “Ayo gerak sekarang, mereka udah keluar tuh.”

Bener aja, dari sebauh jalan tanjakan, ratusan (mungkin ribuan, nggak tahu juga) perempuan yang usianya kelihatan masih sekitar 20 tahunan turun ke jalan raya. Para sopir angkot langsung berebut calon penumpang yang hampir semuanya pasang muka capek. Teriakan-teriakan mereka membahana memenuhi area itu, berusaha mengudang para pekerja-baru-bubar untuk menumpangi angkotnya.

Sebagian di antara para karyawati itu menyeberang jalan ke tempat Joko dkk berdiri.

“Ayo jalan.” Kata Joni.

Mereka pun beraksi menjadi wartawan SMA dadakan yang menamakan diri Tim Analis Lapangan Amatir SMA (disingkat TALAS). Dengan gaya sok wartawan, mereka menanyai beberapa karyawan garmen yang telah diseleksi ketat penampilannya, meski itu sama sekali nggak berhasil.

Dan kalau bicara soal mereka, itu artinya Joni dan Jaya. Sebab Joko lebih asyik merekam wawancara dengan camcordernya dan berdalih sibuk merekam pas diminta nanya.

Joko nggak bisa selancar Joni kalau harus ngomong ke orang baru.

“Ya begitulah, kalau saya sih bekerja begini juga tuntutan dari keluarga.” Kata seorang karyawati yang mengenakan kerudung-cekik-ayam. “Bapak saya susah dapat kerjaan, ibu saya apalagi. Makanya habis saya lulus SMA, saya langsung kerja di sini. Nggak mau memberatkan orangtua.”

Joni mencatat itu dengan baik, sementara Joko asyik merekam wawancara Jaya dengan narasumber.

“Suami saya pengangguran, mau cari kerja susah.” Kata seorang karyawati lain. “Zaman sekarang mau kerja ya nggak gampang, makanya saya ya terpaksa bantu-bantu juga.”

“Kerjanya ya capek, pasti. Dari jam 7 udah harus berkutat sama jahitan pakaian, baru istirahat pas mau dzuhur. Mau ke toilet aja susah, Dek. Harus pakai kartu izin segala, dan itu juga satu kartu buat 50 orang.”

Ketiga wartawan dadakan bengong denger yang satu ini.

“Ini udah kayak pemerasan tenaga, sebenernya. Kami kerja hampir tanpa henti dari pagi sampai sore, tapi gajinya belum begitu cukup buat kebutuhan sehari-hari. Makanya saya juga ikut lembur buat dapat tambahan uang.”

“Nggak enak juga rasanya diperintah sama majikan-majikan orang asing. Kesannya ya kok saya jadi pembantu di negeri saya sendiri.”

“Mau shalat susah, mau ke toilet susah, makan waktunya terbatas, bahkan kalau saya sakit atau ada keluarga yang sakit dan harus saya temani sampai saya nggak masuk kerja sehari, gaji langsung dipotong.”

“Saya merasa diperbudak, tapi saya nggak punya pilihan lain lagi. Saya harus menghidupi keluarga saya.”

Secara umum itu jawaban yang didapat Joko dkk, kecuali yang satu ini.

“Ah, gue kan pengen beli macem-macem. Pengen beli baju bagus, HP, sepatu, macam-macam dah! Masalah makan toh masih ada yang nanggung, tinggal gue pake aja gaji gue buat seneng-seneng.”

Jawaban salah satu karyawati yang penampilannya agak necis dan gayanya agak belagu-kampungan ini bikin ketiga wartawan bertukar pandang yang seolah pengen bilang,

Joni      : “Parah bener nih orang satu.”

Jaya     : “Konsumtif bener gaya hidupnya.”

Joko     : “Dasar sarap.”

***

Selepas shalat Maghrib di mushola di dekat sana, mereka bertiga meluncur di dalam angkot menuju rumah masing-masing. Untungnya, yang bikin Joko dan Joni lega, angkot yang ini steril dari para karyawan garmen.

“Jok, lo dari tadi nggak ada nanya-nany..”

“Jangan panggil gue Jok!” sentak Joko, sekaligus motong kalimat Jaya.

“Eh iya, iya, sabar brow.” Jaya agak salah tingkah. “Ko, lo dari tadi nggak ada nanya-nanyanya. Kita berdua mulu yang nanya. Jadi lo yang bikin analisisnya ya.”

Joko mandang Jaya dengan ekspresi heran. “Lah kan dari tadi gue ngerekam, gimana bisa nanya?”

“Kan lo bisa ngasih tuh kamera ke gue atau Jaya.” Sambung Joni.

“Ya tapi kan…”

“Udah, pokoknya lo yang bikin analisisnya. Gak mau tau.” kata Joni dan Jaya bareng.

Joko nggak bisa ngelak lagi, dan menyanggupi tanpa banyak bicara.

***

Minggu berikutnya, pas mata pelajaran Kewarganegaraan. Kayak biasanya, Joko ngomong di depan kelas dengan cuek bebek.

“…persoalan para pekerja di garmen yang kami ambil kasusnya ternyata cukup kompleks.” Katanya datar di depan seisi kelas IPA 1 yang menonton aksi presentasinya. “Kami sudah mewawancarai beberapa di antara mereka dan menemukan beberapa poin penting yang harus diperhatikan. Yang pertama, mereka bekerja karena tuntutan hidup, yaitu untuk menafkahi keluarganya, entah itu karena mereka satu-satunya harapan untuk bekerja atau untuk membantu suaminya yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.

“Poin kedua, dalam konteks waktu kerjanya, hampir semua menyatakan hal yang sama, bahwa mereka merasa mengalami pemerasan tenaga yang luar biasa. Masuk sejak pagi, dan baru keluar sore. Dengan kerja keras seperti itu, enam hari dalam seminggu, masih banyak yang menyatakan bahwa gaji yang diterimanya itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan. Sebagian di antaranya bahkan memilih untuk mengambil kerja lembur, mengambil jam kerja tambahan di malam hari untuk mendapatkan tambahan pemasukan.

“Poin ketiga, bahwa perlakuan terhadap para pekerja itu juga tidak bisa dikatakan baik. Penelusuran kami menemukan bahwa di garmen tempat kami mengambil penelitian, para karyawati mendapat kesulitan dalam banyak hal. Bahkan untuk sekadar ke toilet atau shalat pun dipersulit. Dalam urusan gaji pun mudahh sekali untuk memotongnya apabila mereka tidak masuk kerja, meski hanya sehari, dengan alasan apapun termasuk sakit sekalipun. Beberapa di antara responden juga menyatakan bahwa mereka merasa diperbudak orang asing di negeri sendiri.

“Poin keempat, bahwa… eh, ini abaikan saja. Cuma kisah seorang yang gaya hidup konsumtifnya seolah merasa dia itu artis Hollywood nan glamor, makanya rela bekerja di sana. Lucu, memang. Jadi lupakan sajalah.”

Beberapa siswa saling bertukar pandang.

“Kalau kita perhatikan secara menyeluruh, paling tidak ada dua alasan utama mengapa fenomena seperti ini terjadi. Yang pertama, ketidakmampuan negara menyediakan lapangan kerja. Keluhan tentang para suami yang pengangguran karena susah dapat lapangan kerja menunjukkan bahwa dalam penyediaan lapangan kerja ini terdapat masalah yang sangat fatal. Padahal negara sudah seharusnya menjadi pihak yang memfasilitasi pekerjaan bagi rakyatnya, buakn lepas tangan begitu saja.

“Yang kedua, dari ketidakmampuan, atau mungkin keengganan, pemerintah memberikan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya, atau memberikan modal usaha bagi rakyat, maka dibukalah peluang para investor asing untuk masuk ke dalam negeri dan membuka lapangan kerja yang bisa dikatakan merupakan eksploitasi terhadap para tenaga kerja. Hal ini sangat sejalan dengan prinsip kapitalisme, yang mana negara membuka peran seluas-luasnya bagi para investor asing untuk masuk ke dalam negeri, sementara pemerintah hanya berfungsi sebagai regulator saja. Usaha keras para buruh dalam bekerja hanya dihargai murah, begitu pula dengan harga diri para buruh, yang mayoritas merasa direndahkan oleh para pimpinannya.

“Maka dari sini jelas sekali bahwa sistem kapitalisme yang diterapkan negeri ini menjadi akar masalahnya. Kapitalisme membuat negara ini layaknya sebuah pasar, dimana para pedagang asing bisa masuk begitu saja menjadi investor dan mempekerjakan buruh lokal dengan bayaran rendah. Negara kehilangan fungsinya sebagai pengatur urusan rakyat, beralih hanya menjadi regulator saja. Sebagai akibatnya, negara tidak terlalu memperhatikan masalah lapangan pekerjaan, dan menyerahkan itu pada perusahaan-perusahaan asing yang masuk ke dalam negeri. Sementara yang namanya pengusaha, pasti ingin memanfaatkan modal seminimal mungkin, maka dieksploitasilah wanita sebagai korban, karena tenaga mereka dihargai lebih murah daripada laki-laki.

“Problem kesejahteraan, lapangan pekerjaan, dan perusahaan asing yang mengeksplotasi para pekerja ini tidak perlu terjadi apabila negara ini menerapkan sistem yang tepat untuk mengaturnya, yaitu sistem Islam. Dalam Islam, yang wajib bekerja itu laki-laki, bukan perempuan. Maka laki-laki akan didorong untuk bisa mendapatkan nafkah sendiri bahkan sejak dalam usia muda. Dalam kasus mereka tidak bisa menemukan pekerjaan atau tidak punya modal usaha, maka negara wajib berperan di sini. Negara wajib mengadakan lapangan pekerjaan dan atau menyediakan modal bagi rakyat untuk berusaha. Dan jika tidak ada yang mampu bekerja dalam keluarga itu, maka menjadi kewajiban negara untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga itu.

“Jadi dalam pemenuhan kebutuhan pokok rakyat, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan , dan keamanan, itu menjadi tanggung jawab negara untuk menyediakan. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Imam (pemimpin/Khalifah) itu layaknya seorang gembala, ia akan dimintai pertanggungjawaba atas gembalaannya.” (HR Muslim)

Maka jelas sekali inilah tugas seorang kepala negara untuk mengurus hal-hal seperti ini, karena tugas negara adalah sebagai pengurus urusan umat.

“Adapun masalah investasi asing, Islam sudah mengaturnya dengan baik. Investasi pabrik garmen seperti ini pada dasarnya boleh-boleh saja, selama hasil produksinya juga adalah barang-barang yang halal. Namun melihat pada fakta bahwa yang dihasilkan pabrik ini adalah pakaian-pakaian yang melanggar ketentuan syariat, maka hukumnya jadi haram untuk menerima investasi masuknya. Apalagi faktanya pakaian ini didistribusikan secara luas tanpa ada filterisasi, siapa yang akan membelinya. Maka hal ini juga termasuk membahayakan akhlak umat Islam, sehingga syariat mengharamkan perusahaan seperti ini melakukan investasi. Sedangkan masalah kontrak kerja, sekalipun itu merupakan urusan antara perusahaan dengan pekerjanya, tapi dalam hal ini negara juga harus mencegah terjadinya kezaliman yang dilakukan perusahaan terhadap pekerja, juga sebaliknya.

“Dengan demikian, solusi untuk mengatasi persoalan eksploitasi buruh ini, lebih spesifik lagi buruh garmen, adalah dengan menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dalam naungan sistem Islam, yakni Khilafah. Negara Khilafah akan mengatur dengan baik rakyatnya dengan syariat Islam dan memenuhi tugasnya sebagai pengurus urusan rakyat seperti telah saya jelaskan tadi. Perempuan tidak akan dieksploitasi lagi tenaganya untuk mencari nafkah, dan dikembalikan pada fitrahnya sebagai seorang ibu dan pengurus rumah tangga, yang berkewajiban untuk mengurus dan membina anak-anaknya demi menciptakan generasi cemerlang. Khilafah juga akan menentukan apakah sebuah perusahaan asing layak melakuakn investasi atau tidak di dalam negeri, untuk memastikan tidak ada eksploitasi tenaga kerja, perendahan martabat, dan tersebarnya barang-barang yang akan merusak akhlak kaum muslimin. Lebih dari itu, Khilafah akan mengatur pengelolaan Sumber Daya, utamanya Sumber Daya Alam dengan baik sehingga negara bisa berjalan tanpa perlu ada investor masuk. Demikian.”

Joko mengakhiri presentasinya. Aplaus mengiringinya kembali ke kursinya, tepat di samping kursi Joni.

“Joko, tumben kamu bagus presentasinya hari ini?” kaya Bu Yani, guru Kewarganegaraan yang dari tadi merhatiin dari kursi paling belakang. “Tapi kamu mah jadi agak kurang nyambung, jadi ke agama juga. Ini kan pelajaran kewarganegaraan.” Sambungnya sambil tersenyum.

Tugas ini juga nggak nyambung sama kewarganegaraan kok, Bu, gumam Joko dalam hati.

“Secara umum presentasi kamu udah bagus, Ibu beri nilai paling tinggi.” Kata Bu Yani sambil nulis nilainya di catatan.

Sebagian siswa kaget denger Joko mendadak dapat nilai paling gede padahal biasanya hancur-hancuran, sebagian lain menggumam nggak sabar.

“Wah, tumben lo hebat, Ko! Kita dapet nilai paling tinggi nih!” seru Jaya yang duduk di belakang Joko.

“Awalnya gue udak agak pasrah dapet nilai hancur gara-gara lo yang bikin analisisnya. Tapi alhamdulillah, malah jadi paling bagus.” Kata Joni, nepuk bahu Joko.

Kalo gitu, napa lo pada malah nyuruh gue, kemaren? Sialan. Gerutu Joko dalam hati.

“Kalo lo gini terus, lo bisa dah benerin nila Kewarganegaraan lo yang ancur.” Sahut Joni lagi.

Joko mendengus. “Gue kan bisa ngerjain gara-gara ini nggak nyambung sama materi Kewarganegaraan selama ini. Coba suruh gue presentasi tentang HAM dan sejenisnya, paling-paling bengong di depan.”

Joni dan Jaya ngakak.

“Gue jadi inget kata-katanya utusan Sultan Murad ke Lazar Hrebeljanovic, kaisar kerajaan Serbia pas masa Khilafah Utsmaniyah memimpin umat Islam di berbagai penjuru dunia. ‘Yang kami tahu, siapapun yang memimpin tanpa menggunakan hukum Allah dia pasti menganiaya rakyatnya’. Dan itu jelas banget sekarang, para karyawati itu teraniaya dalam kerjanya yang begitu menguras tenaga dan waktu gara-gara diterapkannya sistem Kapitalisme ini. Padahal mereka harusnya sibuk menuntut ilmu, atau jadi pengurus rumah tangga. Kondisi ketimpangan ekonomi yang dalam akibat sistem ekonomi rusak ini udah merusak keadaan mereka. Sementara mereka cuma dapat gaji kecil yang nggak sebanding dengan usaha mereka, para pemilik perusahaan leha-leha dapet dui banyak dari memeras habis tenaga para karyawati itu. Luar biasa menjengkelkan.”

Joni kelihatan menimbang-nimbang. “Bener, bener. Ngomong-ngomong, lo nemu kata-kata itu dari buku mana?”

“Novel.” Jawab Joko cuek.

Joni menepuk dahinya. Lagi-lagi dari novel.

***

(Andhika Dwijayanto; Kontributor Gaul Fresh)

http://gaulfresh.com/wp-content/uploads/2015/06/1838339545p.jpghttp://gaulfresh.com/wp-content/uploads/2015/06/1838339545p-150x150.jpgAndhika DwijayantoHiburanburuh,Islam,Joko And Joni In Action,kapitalismeGaulFresh.Com - Joko bukan orang yang doyan sama pelajaran Kewarganegaraan. Sejak awal dia menginjakkan kaki di lantai SD, sampai menduduki kursi SMA, Kewarganegaraan (atau dulu namanya PPKn, sama aja) adalah pelajaran yang paling bikin Joko mumet. Nggak tahu karena dasarnya suka sama eksak atau emang terlalu malas, Joko nggak pernah...Refresh Your Mind
The following two tabs change content below.
Mahasiswa Program Studi Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada yang antusias pada dunia kepenulisan, utamanya genre fiksi ilmiah dan fiksi fantasi. Sampai saat ini, dia sudah menerbitkan satu novel fantasi dan empat naskah antologi.

Latest posts by Andhika Dwijayanto (see all)