imagesGaulFresh.com- Kasus pembunuhan anak dengan sadis akhir-akhir ini semakin marak terjadi. Beberapa hari kemarin media dihebohkan dengan berita ditemukannya jenazah seorang anak perempuan berinisial PNF  dalam sebuah kardus. Viva.co.id (9/10) mengabarkan bahwa Polda Metro Jaya resmi menetapkan Agus, mantan residivis yang diduga sebagai pelaku pembunuhan bocah PNF (9) atas kasus pencabulan. Agus terbukti telah melakukan tindakan pencabulan terhadap anak berinisial T (15).

Jumlah kasus kekerasan anak tiap tahun terus meningkat. Kompas (29/7) menyebutkan bahwa dari hasil olah data Komnas Perlindungan anak, Kemendikbud, kasus kekerasan terhadap anak cenderung meningkat tiap tahun. Tahun 2007 ada 1.510 kasus, tahun 2008 ada 1.826 kasus, tahun 2009 ada 1.998 kasus, tahun 2010 ada 2.046 kasus, tahun 2011 ada 2.462 kasus (58% berupa kasus kekerasan seksual), tahun 2012 ada 2.637 kasus (62% berupa kasus kekerasan seksual), tahun 2013 terjadi 3.339 kasus (54% berupa kasus kekerasan seksual) dan tahun 2014 terjadi 2.750 kasus (58% berupa kasus kekerasan seksual).

Beberapa faktor pemicu adanya kekerasan terhadap anak menurut Data Komnas PA diantaranya adalah: KDRT, disfungsi keluarga yaitu peran orangtua tidak berjalan sebagaimana seharusnya, tekanan ekonomi atau kemiskinan, salah pola asuh dan terinspirasi tayangan media. Segala hal yang terjadi memang tak akan terlepas dari kaidah kausalitas (sebab-akibat). Tak ada asap kalau tidak ada api. Saat ini, dengan kecanggihan dan murahnya teknologi, seseorang dapat dengan mudahnya mengakses pornografi. Akibatnya, tak sedikit orang yang porn addict dan akhirnya mencari pelampiasan. Siapa lagi korban yang dijadikan bahan pelampiasan jika bukan anak-anak?  Anak-anak mudah sekali dikendalikan, apalagi jika mereka diancam. Keteledoran orangtua yang memberikan pakaian yang memperlihatkan aurat (minim) bagi anak perempuannya, secara alamiah akan membuat seorang pria dewasa normal akan  terangsang dan sebagian dari mereka akan mencari pelampiasan hasrat seksualnya. Lagi-lagi, siapa yang akan menjadi korban pelampiasannya? Tidak lain, pasti anak-anak. Kasus tersebut dapat mudah sekali menimpa anak-anak ditambah jika orang tua lengah dalam mengawasi pergaulan anaknya.

Inilah akibatnya ketika masyarakat diatur oleh sistem sekuler kapitalisme liberal di segala sisi kehidupannya. Peran negara akhirya hanya sebagai pembuat regulasi (aturan) dan bukan sebagai penanggung jawab dalam perlindungan warganya, terutama anak-anak. Negara pun banyak melempar tanggung jawab penyelesaian pada peran keluarga dan keterlibatan masyarakat.  Namun disisi lain, kebijakan yang ada saat ini mengaruskan para ibu untuk memasuki dunia kerja demi kepentingan ekonomi dan mengejar eksistensi diri dengan program pemberdayaan ekonomi perempuan. Akibatnya, ibu dipisahkan dari anak. Fungsi ibu dalam mendidik anak pun tidak terlaksana. Pemerintah meminta keluarga agar menjadi pembina dan penjaga moral anak. Namun, disisi lain pemerintah pun memfasilitasi bisnis dan media yang menawarkan racun kepornoan. Berbagai pemicu hasrat seksual juga dibiarkan tersebar luas.

Permasalahan tersebut tak akan pernah berhenti jika akar dari permasalahannya tidak dirubah. Ya, sistem kapitalis sekuler merupakan akar permasalahan yang seharusnya segera kita ganti dengan sistem yang sesuai dengan fitrah manusia dan itu berasal dan Sang Pencipta, yakni sistem islam. Sistem islam akan mampu mewujudkan perlindungan terhadap anak dengan tiga pilar: ketakwaan individu, kontrol masyarakat serta penerapan sistem dan hukum islam oleh negara. Islam mewajibkan Negara untuk terus membina ketakwaan individu rakyatnya melalui kurikulum pendidikan, seluruh perangkat yang dimiliki dan sistem pendidikan baik formal maupun informal. Negara menjaga suasana ketakwaan di masyarakat antara lain dengan melarang bisnis dan media yang tak berguna dan berbahaya, semisal menampilkan kekerasan dan kepornoan. Individu rakyat yang bertakwa tidak akan melakukan kekerasan terhadap anak, karena masyarakat bertakwa juga akan selalu mengontrol agar individu masyarakat tidak melakukan pelanggaran terhadap hak anak. Selain itu pun, masyarakat juga akan mengontrol negara atas berbagai kebijakan negara dan pelaksanaan hukum-hukum islam.

Negara menerapkan sistem dan hukum islam secara menyeluruh.  Sistem ekonomi islam yang diterapkan negara akan mendistribusikan kekayaan secara adil dan merealisasikan kesejahteraan. Kekayaan alam dan harta milik umum dikuasai dan dikelola langsung oleh negara, dan seluruh hasilnya dikembalikan kepada rakyat baik langsung maupun tidak langsung dalam bentuk berbagai pelayanan. Dengan menerapkan sistem ekonomi islam, Negara akan mampu menjamin pemenuhan kebutuhan pokok tiap individu (pangan, sandang dan papan); juga akan mampu menjamin pemenuhan kebutuhan dasar akan kesehatan, pendidikan dan keamanan. Dengan begitu tekanan ekonomi sebagai salah satu faktor pemicu besar munculnya pelanggaran terhadap hak anak bisa dicegah sedari awal. Kaum ibu juga tidak akan dipisahkan dari anak-anak mereka. Kaum ibu bisa melaksanakan fungsinya sepenuhnya dalam merawat dan mendidik anak-anak mereka.

Sistem sanki hukum dalam islam pun akan menjadi benteng yang bisa melindungi masyarakat dan meminimalkan faktor-faktor yang bisa memicu kasus pelanggaran dan kekerasan terhadap anak. Caranya adalah dengan pemberian sanksi hukum yang berat, yang bisa memberikan efek jera bagi pelaku kriminal dan mencegah orang lain melakukan kejahatan serupa. Pelaku kekerasan yang menyebabkan kematian anak, tanpa kekerasan seksual, akan dijatuhi hukuman qishâsh. Pelaku pedofilia dalam bentuk sodomi, meski korban tidak sampai meninggal, akan dijatuhi hukuman mati. Rasul saw bersabda:

« مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ »

Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku (yang menyodomi) dan pasangannya (yang disodomi).” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi).

Dalam islam, jika kekerasan seksual terhadap anak terjadi  dalam bentuk perkosaan, maka pelakunya, jika muhshân, akan dirajam hingga mati. Sedangkan jika ghayr muhshân, maka akan dicambuk seratus kali. Jika pelecehan seksual tidak sampai tingkat itu maka pelakunya akan dijatuhi sanksi ta’zîr, yang bentuk dan kadar sanksinya diserahkan kepada ijtihad khalifah dan qâdhi (hakim). Pelaksanaan semua sanksi itu dilakukan secara terbuka, dilihat oleh masyarakat dan segera dilaksanakan tanpa penundaan lama. Dengan itu pelaku kekerasan terhadap anak tidak akan bisa mengulangi tindakannya. Anggota masyarakat lainnya juga tercegah dari melakukan tindakan kejahatan serupa.

 Pelaksanaan sistem islam secara menyeluruh itulah yang akan memberikan perlindungan terbaik bagi anak. Dan penerapan syari’ah islam yang menyeluruh tersebut tidak lain hanya akan terlaksana dalam sistem Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

 

Oleh: Ummu Kultsum (Kontributor Gaul Fresh)

http://gaulfresh.com/wp-content/uploads/2015/10/images2.jpghttp://gaulfresh.com/wp-content/uploads/2015/10/images2-150x150.jpgUmmu KultsumDunia IslamNewsanak,Islam,Khilafah,pembunuhan anakGaulFresh.com- Kasus pembunuhan anak dengan sadis akhir-akhir ini semakin marak terjadi. Beberapa hari kemarin media dihebohkan dengan berita ditemukannya jenazah seorang anak perempuan berinisial PNF  dalam sebuah kardus. Viva.co.id (9/10) mengabarkan bahwa Polda Metro Jaya resmi menetapkan Agus, mantan residivis yang diduga sebagai pelaku pembunuhan bocah PNF (9) atas...Refresh Your Mind
The following two tabs change content below.
Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya yang sedang belajar Pemetaan Sumberdaya Pesisir dan Laut, Desain Grafis, serta Menulis.

Latest posts by Ummu Kultsum (see all)