MenikahGaulfresh.com – Allah SWT menciptakan manusia dengan disertai potensi hidup yakni Naluri (Gharizah) dan Kebutuhan hidup (Hajatun Adhawiyah). Keduanya menuntut untuk dipenuhi, sehingga banyak aktivitas yang dapat memenuhinya. Namun aktivitas tersebut haruslah sejalan dengan perintah Allah.

Naluri merupakan potensi hidup yang hanya akan muncul karena rangsangan dari luar diri manusia. Ketika naluri muncul maka ia akan menuntut untuk dipenuhi. Bagi manusia yang nalurinya muncul akan melakukan aktivitas yang bertujuan untuk memenuhi tuntutan naluri tersebut. Naluri manusia terbagi tiga yakni:
1. Naluri Meng-Esa-kan sesuatu (Gharizah Taddayun)
2. Naluri Mempertahankan diri (Gharizah Baqo’)
3. Naluri Berkasih Sayang (Gharizah Nau’)
Pada pembahasan ini menarik untuk kita membahas poin ketiga. Sebab, naluri berkasih sayang merupakan hal yang sering muncul akibat pengaruh dari luar diri manusia pada saat ini. Tak dapat dipungkiri bahwa sistem kehidupan hari ini senantiasa menyebabkan naluri berkasih sayang kita muncul. Coba saja perhatikan bahwa saat ini di sekitar kita aktivitas orang-orang tak lepas dari syahwat, jika malam menjelang –kadang siang bolong juga- banyak muda-mudi yang berjalan berdua di tempat sepi dan remang (ngapain tuh?! | nyari katak mungkin), adanya bisnis penjajakan perempuan atau biasa kita kenal dengan lokalisasi, perayaan pesta yang kerap kali tak luput dengan pesta seks, merebaknya situs porno (anak SD pun bisa mengakses), perempuan saat berada di luar rumah tanpa menggunakan pakaian yang menutup aurat (dibaca: hijab syar’i), tempat-tempat hiburan malam tempat campur-baur pria-wanita yang bukan mahram, dan adanya perayaan-perayaan hari kasih-sayang ala Barat (Valentine, Pre-Wedding).
Pada prinsipnya semua itu adalah hasil produk sistem kehidupan sekarang yang serba sekuleristik (pemisahan agama dari kehidupan). Baik muda maupun tua terancam olehnya, baik yang imannya tebal apalagi yang gak punya iman pasti terjerumus. Sungguh, hal inilah yang tengah menjadi salah satu permasalahan yang menimpa umat Islam.
Ketika sistem kehidupan sekarang menyebabkan munculnya naluri berkasih-sayang, lantas bagaimana kita memenuhi tuntutan naluri tersebut? Jika tidak dibekali ilmu dan iman maka besar kemungkinan pemenuhannya akan disesuaikan standar “suka-suka gue”. Barangkali kita menjumpainya, ketika ada orang yang berpacaran maka dapat dipastikan mereka sedang melakukan pemenuhan naluri berkasih-sayangnya. Begitupula ketika kita melihat ada pasangan muda-mudi yang melaksanakan akad nikah maka mereka pun sedang melakukan pemenuhan naluri berkasih-sayangnya. Hmm… Lantas apa yang membedakan aktivitas pemenuhan tuntutan naluri tersebut?
Pertama, pemenuhannya dengan aktivitas pacaran.
Kedua, melalui pernikahan.
Jika kita kaji dengan seksama, keduanya merupakan aktivitas untuk memenuhi tuntutan naluri berkasih-sayang. Namun, pada dasar pondasinya kedua aktivitas tersebut berbeda. Pondasi aktivitas pacaran adalah atas dorongan hawa nafsu semata tanpa tuntunan syariat. Sementara, menikah merupakan aktivitas pemenuhan dengan pondasi keimanan dan telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Dari akar dorongan aktivitas tersebut jelas berbeda sehingga sebagai manusia yang beriman maka kita harus senantiasa meletakkan segala aktivitas kita di atas tuntunan syariat agar tidak terjebak dengan budaya kaum kafir barat yang menyesatkan kita ke dalam jurang maksiat.
Menikah adalah pemenuhan naluri berkasih-sayang sesuai dengan syariat Islam. Sebagaimana Allah telah sampaikan dalam al-Quran :
وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ -٣٢-
Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan Memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. (an-Nur : 32)
Serta menikah merupakan bagian dari syariat yang Rasulullah contohkan, dalam sebuah hadits mahsyur yang sering kita dengar :
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
‘Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang telah mempunyai kemampuan, maka hendaklah ia menikah, dan barangsiapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa karena hal itu akan lebih bisa meredakan gejolaknya.’” (HR. Bukhari)
Hanya menikahlah aktivitas pemenuhan naluri berkasih-sayang yang dilakukan oleh orang-orang beriman, bukan dengan aktivitas pacaran, Teman Tapi Mesum (TTM), berkhalwat dan ikhtilat. Jika belum mampu menikah maka berpuasalah (seruan Rasul). Solusi dalam pemenuhan naluri telah ada dalam tuntunan Islam. Lakukanlah hanya dengan tuntunan Islam.
Tunjukkan kepada Allah bahwa kita layak menjadi salah satu member di SurgaNya dengan melakukan aktivitas ibadah (menikah).
Bagi yang pacaran, segera putuskan pacarmu, jika memang ingin mulia dihadapan Allah jauhi pacaran sebab pacaran adalah aktivitas yang mendekati zina dan kemungkinan besar akan berzina.
Bagi yang belum mampu menikah maka tetaplah istiqomah untuk mempersiapkan diri, dan puasanya diperbanyak selama sendiri. Kita tidak tahu kapan maut akan menjemput kita, akan lebih baik jika kita dijemputNya dalam keadaan taat bukan maksiat (termasuk pacaran bagian dari maksiat).
-Proud to be Moslem-[mrizki]

Muhammad Rizki (kontributor gaulfresh)

http://gaulfresh.com/wp-content/uploads/2016/02/Menikah-1024x576.jpghttp://gaulfresh.com/wp-content/uploads/2016/02/Menikah-150x150.jpgRizkiCintagharizah,menikahGaulfresh.com - Allah SWT menciptakan manusia dengan disertai potensi hidup yakni Naluri (Gharizah) dan Kebutuhan hidup (Hajatun Adhawiyah). Keduanya menuntut untuk dipenuhi, sehingga banyak aktivitas yang dapat memenuhinya. Namun aktivitas tersebut haruslah sejalan dengan perintah Allah. Naluri merupakan potensi hidup yang hanya akan muncul karena rangsangan dari luar diri manusia....Refresh Your Mind