fatwaGaulfresh.com – Kisah ini mungkin sudah sering kita dengar. Hafal bahkan. Kisah tentang bagaimana Umar bin Abdul Aziz mematikan lampu karena sang tamu tidak lagi berbincang urusan negara. Beliau tidak mau memanfaatkan fasilitas negara untuk dirinya, meski hanya sekedar lampu yang nilainya tidak seberapa dan tidak akan ada yang melarang.

Sangat berbeda dengan zaman syubhat kita ini. Begitu mudahnya kita memanfaatkan fasilitas kantor dan atau negara untuk keperluan pribadi. Listrik, alat tulis, waktu, bahkan kendaraan yang diamanahkan sering dimanfaatkan di luar tugas lembaga atau negara.

Tidak jarang didapati kendaraan plat merah bertebaran di tempat liburan, mall, pasar, dan di jalan-jalan di luar waktu kerja. Mungkin tidak ada yang menegur atau tepatnya tidak berani. Tapi ini soal etika. Soal kehati-hatian. Betapa banyak hal yang dulunya dijauhi orang-orang hebat karena takut masuk dalam perkara syubhat dan haram, kini menjadi hal biasa.

Ketika semua dianggap biasa dan tanpa teguran saudara bukan berarti kita harus ikut hanyut di dalamnya. Hati kitalah sang pemberi fatwa. Bertanyalah padanya, patutkah semua ini. Tenangkah kalau itu kita lakukan. Atau jangan-jangan ini tanda lemahnya sang iman.

Andi Ar (Konrributor Gaulfresh dan Peminat Pendidikan)

Andi ardiantoCelotehfatwa,hatiGaulfresh.com - Kisah ini mungkin sudah sering kita dengar. Hafal bahkan. Kisah tentang bagaimana Umar bin Abdul Aziz mematikan lampu karena sang tamu tidak lagi berbincang urusan negara. Beliau tidak mau memanfaatkan fasilitas negara untuk dirinya, meski hanya sekedar lampu yang nilainya tidak seberapa dan tidak akan ada yang...Refresh Your Mind
The following two tabs change content below.

Latest posts by Andi ardianto (see all)