maria-anastasia-taushiyah

Gaul Fresh.com- Tiap orang yang lahir ke dunia, punya kesempatan sama untuk memeluk kebenaran. Syaratnya, mau berpikir. Udah sering kita dengar, pemeluk agama nasrani yang taat, bahkan seorang misionaris penyebar agama nasrani berbalik mencintai Islam. Satu cerita datang dari Maria Anastasia Dwi Eni Widyastuti. Ustadzah satu ini punya kisah hebat di masa lalu.

Ibu Maria berasal dari keluarga Katholik yang taat. Jelang akhir masa sekolah tingkat menengah atas, beliau terusik dengan pertanyaan tentang kematian. “Ada apa setelah mati?” begitu tanya beliau.

Beliau bertanya pada guru-guru di sekolah. Tapi tak mendapat jawaban. Beliaupun bersikeras pengen jadi suster, pengen mengabdi sepenuhnya pada Tuhan. Tapi keluarga beliau nggak setuju. Akhirnya batal, beliau lalu kuliah. Saat tahun pertama kuliah, beliau punya teman seorang muslim. Disinilah hidayah berawal. Suatu hari beliau main ke rumah teman itu. Di kamar temannya, terlihat dua buah buku tergeletak. Iseng aja gitu, minjam salah satunya dan bawa pulang tanpa melihat dulu judul buku yang dibawa.

Sampai rumah, ibu Maria kaget, buku itu berisi kisah hidup seorang muallaf. Judulnya, “Mengapa Saya Masuk Islam” karya Eddy Crayn Hendrik. Buku itu tak langsung dibaca, karena beliau benci Islam dan takut keluarga marah kalau ketahuan. Buku itu disimpan saja. Tiga bulan disimpan, muncul rasa penasaran untuk baca buku itu. Saat membacanya, beliau tersinggung sama isinya yang dianggap melecehkan ketuhanan Yesus.

Tersinggungnya beliau mendorong untuk mendalami injil. Baca bab pertama kitab injil, beliau nemu keganjilan dan pertentangan antar ayatnya. Dari situ beliau terus bertanya, mengapa Tuhan bisa mati di tiang salib? Kok nggak ngelawan? Kan maha segalanya. Dialog sama suster, pastur dan teman sesama aktivis gereja gak bikin puas.

Keyakinan beliau terhadap agamanya goyah, lalu memutuskan untuk mencari agama yang benar. Beliau belajar agama Protestan, Budha, Hindu, hingga aliran kebatinan. Namun tak satupun bisa memuaskan akal beliau. Cuma Islam satu-satunya yang belum dipelajari. Kebencian itu membuat beliau berat. Sampai akhirnya beliau merasa tak berbuat adil, kalau belum mempelajari Islam.

Beliau mulai membaca terjemahan  al Qur’an, dilanjutkan membaca buku-buku keislaman, mengamati ibadah umat Islam dan banyak bertanya pada teman-teman muslim. Beliau bahagia, karena pertanyaan tentang kematian terjawab. Setelah kematian, manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan di dunia. Bukti kebenaran Islam dari serangkaian proses belajar itu membuat beliau mantap, pada 13 september 1985, mengucap dua kalimat syahadat. Alhamdulillah, dengan dukungan suami yang seorang muslim, sekarang beliau membina jamaah pengajian di rumah.

Sumber: Republika.co.id

By. Eva Arlini (Kontributor Gaul Fresh & Aktivis MHTI)

Eva MustanirAqidahCelotehKisahAsal Mau Berpikir,Insya Allah,Nemu KebenaranGaul Fresh.com- Tiap orang yang lahir ke dunia, punya kesempatan sama untuk memeluk kebenaran. Syaratnya, mau berpikir. Udah sering kita dengar, pemeluk agama nasrani yang taat, bahkan seorang misionaris penyebar agama nasrani berbalik mencintai Islam. Satu cerita datang dari Maria Anastasia Dwi Eni Widyastuti. Ustadzah satu ini punya kisah...Refresh Your Mind
The following two tabs change content below.
Orang Medan yang rindu hidup dalam Kehidupan Islam, hobi nulis untuk memperluas jangkauan dakwah. 5 buah tulisannya sudah dibukukan dalam buku antologi. Berbagai artikelnya pernah dimuat di surat kabar lokal maupun nasional. Semoga kemenangan Islam cepat terwujud, amin

Latest posts by Eva Mustanir (see all)